08fc1698-bb93-4424-8929-de35e6ad250d.jpg

Kamis, 30 Oktober 2025 04:46:00 WIB

0

AICIS+ 2025 Jadi Lompatan Baru Studi Islam, UIN Sunan Kalijaga Hadirkan Inovasi Kajian Multidisipliner

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali menunjukkan kiprah akademiknya di kancah internasional. Dalam gelaran Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2025 yang berlangsung di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, Rabu–Jumat (29–31/10/2025), para akademisi UIN Sunan Kalijaga tampil sebagai bagian penting dalam forum ilmiah terbesar Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) se-Indonesia itu.

Lebih dari 2.000 papaer diajukan oleh para peneliti dari 31 negara, namun hanya 230 abstrak yang dinyatakan lolos setelah melalui proses seleksi yang kompetitif. Di antara para peneliti terpilih tersebut, akademisi UIN Sunan Kalijaga turut ambil peran, menghadirkan gagasan-gagasan inovatif lintas disiplin yang memperkaya khazanah intelektual forum internasional ini

Tak hanya sebagai peserta, tiga dosen sekaligus pejabat UIN Sunan Kalijaga juga dipercaya menjadi bagian dari Steering Committee AICIS+ 2025. Mereka adalah Rektor Prof. Noorhaidi Hasan, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Prof. Dr. Saifuddin Zuhri, S.Th.I., MA., dan Wakil Direktur Pascasarjana Dr. Ahmad Rafiq, S.Ag., M.Ag., MA., Ph.D.

Sementara itu, saat ditemui Tim Humas UIN Sunan Kalijaga di sela-sela rangkaian AICIS+ 2025, Ahmad Rafiq menjelaskan bahwa penambahan tanda “+” pada AICIS tahun ini bukan sekadar simbol, melainkan penanda terjadinya evolusi penting dalam perkembangan studi Islam di Indonesia.

“Tahun ini AICIS ditambah plus (+) karena huruf ‘S’ di belakangnya kini melambangkan Science dan Society. Ini menandai bahwa studi Islam di Indonesia telah berkembang melampaui makna teologis, menuju pemahaman Islam sebagai struktur sosial yang dinamis, yang bersentuhan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ungkapnya.

Menurutnya, pergeseran ini menggambarkan semangat baru dalam dunia akademik PTKI: membangun dialog yang hidup antara agama, ilmu, dan kemanusiaan.

“Alhamdulillah, UIN Sunan Kalijaga tahun ini berhasil meloloskan sejumlah peneliti dan pakar untuk berpartisipasi dalam ajang ilmiah bergengsi ini,” tambahnya.

Sejalan dengan semangat AICIS+ yang multidisipliner, para akademisi UIN Sunan Kalijaga tampil dengan spektrum riset yang luas, mulai dari komunikasi profetik, hukum dan keadilan gender, sejarah dan budaya Islam, filantropi berbasis tradisi lokal, hingga psikologi pendidikan dan kesehatan mental. Kajian tentang perdamaian dan krisis kemanusiaan global, serta tafsir dan keadilan sosial, turut memperkaya diskursus akademik yang melintasi batas disiplin.

Menariknya, dari kalangan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga juga muncul gagasan-gagasan segar yang merefleksikan semangat zaman. Mereka membahas topik seperti ekoteologi, transformasi pendidikan Islam berbasis AI, spiritualitas dalam ekonomi halal, rekonsiliasi dan peran perempuan dalam perdamaian, dekolonisasi pengetahuan Islam, serta kosmologi dan etika lingkungan.

Keterlibatan UIN Sunan Kalijaga dalam AICIS+ 2025 bukan hanya bentuk partisipasi, tetapi pernyataan identitas akademik, bahwa Islam tidak berdiri di luar sains dan masyarakat, melainkan menjadi ruh yang menggerakkan keduanya.

Dengan ini, kampus PTKIN tertua ini tidak hanya meneguhkan perannya dalam studi Islam, tetapi juga berkontribusi aktif dalam diskursus akademik global yang menghubungkan agama, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan,. (humassk)