Biro HDI.JPG

Jumat, 28 November 2025 10:00:00 WIB

0

Forum Humas PTKIN se-Jawa-Madura di Kediri: Biro HKP Kemenag Dorong Humas PTKIN Jadi Arsitek Narasi dan Penggerak Perubahan

Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al-Asyhar, menegaskan bahwa peran humas di lingkungan PTKIN sangat strategis dalam membangun citra positif, memperluas jangkauan informasi, dan menguatkan kepercayaan publik. Pesan tersebut ia sampaikan dalam kegiatan Sinkronisasi Tata Kelola Kehumasan PTKIN se-Jawa Madura Tahun 2025 yang dilaksanakan di UIN Syaikh Wasil Kediri pada Kamis (27/11/2025) yang diikuti oleh para Humas PTKIN di wilayah tersebut.

Forum ini menjadi ruang kolaboratif untuk memperkuat kapasitas humas, menajamkan strategi komunikasi, serta merumuskan peran humas yang semakin relevan dalam ekosistem perguruan tinggi.

Dalam paparannya, Thobib Al-Asyhar mengusung tema “Menjadi Tim Humas Hebat”, sebuah gagasan yang menekankan pentingnya ketangguhan, kreativitas, dan kemampuan adaptif bagi para insan humas PTKIN. Paparan tersebut disampaikan di hadapan para peserta kegiatan Sinkronisasi.

Dalam paparannya, Thobib menyampaikan bahwa berbagai penghargaan yang diterima Kementerian Agama, mulai dari Anugerah Tokoh Kerukunan Nasional hingga penghargaan bergengsi Detik.com Award tidak terlepas dari kerja kolaboratif humas.

“Setiap penghargaan yang kita raih adalah buah dari kerja keras Humas yang telah memberikan kontribusi nyata. Ketika tantangan muncul, Humas menjadi pihak yang sigap merespons, dan ketika keberhasilan diraih, Humas tetap bekerja di balik layar dengan penuh komitmen. Karena itu, Humas PTKIN harus semakin hebat dan semarak,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi urgensi penguatan kapasitas humas agar semakin kreatif, adaptif, dan responsif terhadap dinamika informasi publik.

Dalam kesempatan tersebut, Karo HKP juga menggambarkan karakter ideal seorang humas sebagai sosok yang memiliki “sembilan nyawa”: tidak terbang ketika tidak dipuji, siap menerima kritik, tetap berkarya meski dengan keterbatasan anggaran, serta tidak mudah menyerah.

“Sehebat apa pun kinerja kampus, jika tidak dikomunikasikan dengan baik, publik tidak akan mengetahuinya,” tegasnya. Karena itu, humas dituntut berpikir di luar kebiasaan, menemukan sudut pandang baru, dan melahirkan inovasi komunikasi yang relevan.

Ia kemudian menyampaikan ilustrasi sederhana untuk menggambarkan pentingnya berpikir kreatif. Bayangkan, kata beliau, Anda sedang mengendarai mobil di tengah hujan sambil membawa berbagai perangkat elektronik yang rawan rusak. “Di hadapan Anda, berdiri tiga orang: seorang lansia yang sangat membutuhkan pertolongan, seorang sahabat yang pernah menyelamatkan hidup Anda, dan seorang rekan bisnis yang berpotensi membawa banyak keuntungan. Namun, hanya satu orang yang dapat Anda ajak masuk ke mobil.”

Menurutnya, jika berpikir secara normatif, kita cenderung memilih salah satu dan meninggalkan dua lainnya. Tetapi humas tidak boleh terjebak pada cara pandang sempit seperti itu.
Dengan pola pikir kreatif, solusinya bukan memilih salah satu, melainkan mencari cara yang merangkul semuanya, yakni memberikan kunci mobil kepada sahabat untuk mengantar orang tua yang uzur, sementara Anda dapat berdialog dengan rekan bisnis yang menjanjikan peluang kerja sama.

Ilustrasi ini, tegasnya, menunjukkan bahwa pekerjaan humas menuntut keluwesan, kecerdikan, dan kemampuan melihat peluang dari berbagai sisi untuk terus membangun reputasi.

Di bagian lain, Thobib menyinggung pentingnya sensitivitas dalam berkomunikasi. Ia menganalogikan Nabi Musa saat diutus menyampaikan pesan kepada Firaun, sebuah peristiwa yang menggambarkan kelapangan dada, kehati-hatian dalam memilih diksi, dan kebijaksanaan dalam menyampaikan pesan.

“Dalam menjalankan fungsi kehumasan, diperlukan integrasi empat dimensi kompetensi, yakni kognitif, emosional, sosial, dan spiritual. Keempat dimensi ini memastikan bahwa informasi yang benar tidak hanya akurat secara substansi, tetapi juga dikomunikasikan dengan cara yang etis, dan tepat” ungkapnya.

Kemajuan perguruan tinggi, tegas Karo HKP,  tidak hanya ditentukan oleh pencapaian akademik, tetapi juga oleh kemampuan humas dalam mengomunikasikan capaian tersebut kepada publik. Untuk itu, sangat penting nilai-nilai fundamental dalam membangun tim humas yang solid, yakni kejelasan tujuan, kepercayaan antarpersonel, komunikasi yang efektif, serta kolaborasi yang bebas dari ego sektoral.

Menurutnya, harmoni kerja hanya dapat tercapai ketika setiap unsur dalam tim memahami peran dan kontribusinya secara proporsional. Dalam konteks institusi perguruan tinggi, koordinasi lintas-unit, mulai dari rektorat, fakultas, lembaga penjaminan mutu, LPPM, hingga unit laiinnya, merupakan prasyarat untuk melahirkan narasi institusional yang utuh, kredibel, dan bermakna.

Dalam konteks strategi komunikasi, Thobib menegaskan bahwa peran humas jauh melampaui tugas teknis seperti mengambil gambar atau memproduksi konten audiovisual. Lebih dari itu, humas berfungsi sebagai arsitek narasi institusi yang membangun citra dan identitas kampus secara berkelanjutan. Humas juga berperan sebagai agen perubahan yang mendorong inovasi komunikasi publik, sekaligus menjadi jembatan aspirasi antara institusi dan masyarakat luas. Pada saat yang sama, humas memikul tanggung jawab sebagai penyampai inspirasi, memastikan bahwa nilai, gagasan, dan kontribusi kampus dapat diterima dan dirasakan manfaatnya oleh publik.

Untuk itu, Ia mendorong humas PTKIN untuk memanfaatkan potensi riset kampus dan menjadikannya sebagai sumber narasi publik yang memperkuat tridharma perguruan tinggi.

Mengakhiri sesi, Thobib menegaskan bahwa kendala bukanlah alasan untuk berhenti berinovasi. “Hancurkan keterbatasan, jangan menyerah pada kekurangan. Tugas kita adalah menyampaikan pesan dengan cara yang cerdas,menghadirkan sisi kognitif, spiritual, sosial, dan emosional dalam setiap strategi komunikasi,” pungkasnya.(humassk)