Tadarus Minggu 58
*Asep Jahidin*
Ilmu Kesejahteraan Sosial
_*Tadarus kali ini TERASA BERBEDA. Tidak banyak tawa, tapi juga tidak ada kesedihan...*_ Yang ada hanyalah ketenangan, seperti air yang menemukan wadahnya...
Di lembar catatan yang saya siapkan tertulis tema minggu ini yang melanjutkan minggu lalu: *Intervensi Cahaya Nabi Untuk Difabel: Tahap Ketiga. Sebuah cahaya yang Mengurai luka. Ia menyatukan kegelapan dan Terang*
Saya memulai dengan kalimat pembuka, _*“Terkadang, cahaya yang paling terang justru memancar dari bagian pengalaman hidup yang pernah patah.”*_ Seorang sahabat bertutur, _“Aku dulu sering marah sama tubuhku sendiri. Ngerasa dia nyusahin aku. Tapi belakangan aku sadar, mungkin tubuh ini bukan kutukan, ia tentang bagaimana cara Tuhan ngajarin aku sabar, menerima”_
*Saya mengangguk* dan dengan perlahan berbicara, _“Itu cahaya yang sedang menyembuhkanmu,”_ jawab saya. _“Ia nggak datang dari luar. Ia tumbuh bersinar dari luka yang kamu terima dengan lembut”._
Tidak ada jawaban lanjut, *lalu saya masuk ke dalam tahap pembahaan ketiga* Metode Intervesi Cahaya Nabi
_*Tahap Resonansi Cahaya dan Luka*_
Metode Cahaya Nabi di tahap ketiga ini *menjabarkan bahwa penyembuhan sosial terkait cara pandang masyarakat terhadap difabel bukan soal menghapus luka,* tapi ia merupakan upaya untuk menyatukan luka yang bersifat gelap dengan kesembuhan yang bersifat terang. Karena di mata Tuhan, keduanya bukan lawan. Terang dan gelap adalah dua sisi dari satu cahaya yang sama yang saling mengenali. *Keduanya saling mensyaratkan eksistensi dari yang lainnya*
*Saya kemudian menggambar dua lingkaran lagi di kertas*: Satu gelap, satu terang. Lalu saya tarik garis halus yang menghubungkannya. _“Lihat,”_ saya bilang, _“kadang kita terjebak di sisi gelap kehidupan, tapi cahaya tetap ada di seberangnya. *Di sebelah sini.* Tugas kita bukan berpindah secara fisik, tapi membuka relasi dan menyatukan keduanya secara spiritual batiniah, sehingga dua sisi ini saling menyinari.”_
Teman diskusi saya bertanya: _“Berarti luka itu bukan musuh, ya?”_ Saya tersenyum. _*“Iya, luka itu guru. Ia bukan musuh*, Ia hanya menunjukkan di mana lokasi keberadaan cahaya yang belum kita sadari”._ *Saat masyarakat kita memandang sebelah mata terhadap difabel,* mereka tidak bermaksud melakukannya, *bisa jadi mereka hanya sedang tertutup dari cahaya,* sehingga hanya sisi gelap yang terlihat dari sikap mereka.
*Latihan: Menyentuh Luka dengan Cahaya*
Saya minta semua orang menutup mata. _“Bayangkan luka kalian,”_ saya berkata. _“Bisa luka karena ditinggalkan, dibully, karena gagal, karena kehilangan kemampuan, atau karena diremehkan.”_
Suasana menjadi sangat hening. Lalu saya lanjut, _“Sekarang, bayangkan dari luka itu keluar cahaya lembut. Nggak silau. Nggak menyakitkan. Cuma hangat. Cahaya itu bilang, Aku tetap di sini, meski kamu pernah hancur”_
*Kawan lama menghela napas panjang* . _“Kang,”_ katanya, _“aku baru sadar... Waktu aku jatuh dulu, banyak orang yang nolongin aku. Mungkin waktu itu Tuhan nyembuhkan aku lewat tangan-tangan mereka.”_
Saya balas dalam hati, _“Itulah resonansi cahaya, ketika luka satu orang jadi alasan bagi yang lain untuk menyalakan kasih.”_ Menyatukan cahaya dengan cahaya. _*Jika masyarakat telah tiba pada posisi melihat difabel sebagai cahaya di situlah METODE INTERVENSI CAHAYA NABI MULAI BEKERJA*_
_*Percakapan Setelah Melewati Intervesi Sosial*_
Setelah suasana kembali tenang, seorang angkat bicara. _“Kang, kenapa ya... setelah aku ikhlas nerima rasa sakit, malah hatiku jadi lebih ringan?”_ Saya jawab, _“Karena *saat luka disinari cahaya* kasih dari orang lain, *dia berhenti jadi beban* dan berubah jadi jendela. Dari jendela itu, cahaya Tuhan bisa masuk.”_
Teman yang lainnya lalu menulis kalimat terakhir: *_“Berarti menyembuhkan diri itu sama aja dengan membuka pintu bagi Tuhan.”_* tidak ada yang menjawab...
*Kami semua terdiam*
Dan dalam diam itu, malah rasanya seperti cahaya sedang benar-benar menyala, masuk, menyelimuti suasana yang hadir. bukan dalam bentuk kilatan, *ia menyala dalam bentuk rasa damai yang pelan dan nyata.* Pada situasi seperti ini *masyarakat yang telah terpapar sinar kesadaran akan pentingnya membuka hati terhadap kehadiran difabel*, sejatinya telah menjadi *MASYARAKAT YANG BERCAHAYA*
_*Catatan Penutup*_
Kami belajar satu hal: _*Cahaya tidak datang untuk menolak gelap, tapi untuk menuntunnya pulang.*_
Karena setiap luka yang diterima dengan cinta dari sesama manusia, berubah jadi tempat Tuhan bersemayam di situ.
...Dan di sanalah penyembuhan sejati untuk terbentuknya sebuah masyarakat inklusif sedang dimulai, _*metode Intervensi ini memang tidak melakukannya dengan cara menghapus luka dengan kasih, tapi dengan cara menyatukan keduanya dalam suatu dialog sosial yang dijembatani...*_
_*Setiap kita melihat kehadiran seorang difabel yang diterima di lingkungannya,*_ disitulah sikap kegelapan telah punah, ia bukan lenyap dengan cara kita memeranginya, tetapi _*dengan cara kita menyapanya lebih jauh ke dalam sumber cahaya di dalamnya*_
*Sebelum bubar,* seorang teman menatap bayangan kecil cahaya di sudut ruangan dan berbisik:
_*“Ternyata sekarang saya paham, Tuhan nggak nyembuhin dengan cara ngilangin luka, tapi dengan cara ngajarin kita menyala bareng bersama luka-luka itu.”*_
*Kami semua terdiam lama.*
...dan entah kenapa, malam itu, cahaya terasa bukan cuma di ruangan, tapi juga di wajah kami masing-masing…
*Yogyakarta* 17 November 2025