1. Definisi Operasional
1.1. Integrasi–Interkoneksi
Pendekatan epistemik yang menyatukan agama, ilmu sosial-humaniora, dan ilmu alam dalam satu jejaring makna yang saling memperkuat. Integrasi menolak dikotomi sakral–profan dan teoritis–praktis.
1.2. Mazhab SAPEN (Sunan Kalijaga Paradigm of Epistemic Network)
Rekonstruksi mazhab keilmuan UIN Sunan Kalijaga berbasis:
- Spiritualitas
- Akademik
- Profetik
- Epistemik
- Network (jejaring ilmu)
Mazhab ini memadukan turats (tradisi klasik), ilmu modern, dan realitas kontemporer secara terus-menerus melalui nalar kontinum: alur berpikir yang bertahap, berlapis, dan berkelanjutan.
1.3. Integratif–Holistik
Pendekatan yang menggabungkan:
- Nalar wahyu (al-Quran-Hadis)
- Nalar ‘aqli (rasional)
- Nalar ijtimai (sosial-budaya)
- Nalar burhani, bayani, irfani (al-Jabiri)
- Nalar kontinum (jembatan antara nalar agama, sosial, dan sains)
1.4. Pengembangan Personality
Dimensi pengembangan kepribadian spiritual–intelektual:
- Taqwa → landasan etik
- Fikr → analisis
- Zikr → kontemplasi
- Suluk → habitus praksis
- Akhlaq → orientasi karakter
2. Objek Kajian
2.1. Objek Material
Keilmuan Islam, mencakup:
- Al-Qur’an dan Tafsir
- Hadis dan Ulumul Hadis
- Fiqh & Ushul Fiqh
- Teologi & Tasawuf
- Sejarah Peradaban Islam
- Turats intelektual (falsafah, kalam, adab, balaghah)
- Ilmu sosial-humaniora modern (sosiologi, antropologi, psikologi, hermeneutika, gender)
2.2. Objek Formal
Cara memandang, memahami, dan menafsirkan realitas keislaman melalui:
- Epistemologi Islam klasik-modern
- Pendekatan integratif–interkonektif
- Nalar kontinum
- Hermeneutika kritis
- Analisis multidisipliner
- Metodologi rekonstruktif dan transformatif
3. Dasar Al-Qur’an, Hadis, dan Tafsir
3.1. Integrasi Ilmu dalam al-Qur’an
- QS. Al-‘Alaq: 1–5 → wahyu dan akal sebagai sumber pengetahuan
- QS. Az-Zumar: 9 → keutamaan ilmu dan pencerahan epistemik
- QS. Fussilat: 53 → ayat kauniyah dan qauliyah terhubung
- QS. Ali Imran: 190–191 → integrasi tafakkur dan tadabbur (fikr–zikr)
3.2. Hadis
- “Antum a‘lamu bi umuri dunyakum” → ruang ijtihad dan ilmu kontekstual
- “Innama bu‘itstu liutammima makarim al-akhlaq” → integrasi spiritual–etik
- “Al-hikmah dhallatul mu’min” → keterbukaan pada ilmu universal
3.3. Tafsir
- Al-Tabari, Fakhruddin al-Razi, al-Qurtubi → nalar bayani–burhani
- Ibn Katsir → interkoneksi naqli–aqli
- Al-Ghazali → integrasi fikr–zikr–akhlaq
- Ibn ‘Arabi → nalar irfani (dimensi batin)
- Fazlur Rahman → double movement
- Arkoun → Islamologi terapan
- Nasr Hamid Abu Zayd → hermeneutika kontekstual
- Quraish Shihab → moderasi dan integrasi tafsir–sains–humaniora
4. Dasar Filosofi
4.1. Ontologi
Realitas terdiri dari:
- Ayat qauliyah (teks)
- Ayat kauniyah (alam)
- Ayat insaniyah (manusia & budaya)
Semua saling terhubung dalam jaringan makna (network ontology).
4.2. Epistemologi
- Integrasi tiga epistemologi: bayani–burhani–irfani
- Keterpaduan wahyu dengan ilmu sosial dan sains
- Pembacaan turats secara kritis dan rekonstruktif
- Nalar kontinum: pengetahuan sebagai spektrum bertahap
- Metode interkonektif: komparasi, dialog, sintesis
4.3. Aksiologi
Ilmu diarahkan untuk:
- Transformasi personal
- Pengembangan akhlak dan kebijaksanaan
- Keadilan sosial
- Keberlanjutan peradaban
5. Dasar Teori
5.1. Teori Islam Klasik
- Al-Ghazali: integrasi syariat–hakikat, burhani–irfani
- Ibn Rusyd: rekonsiliasi filsafat dan syariat
- Ibn Khaldun: ilmu sosial dalam peradaban Islam
- Mulla Sadra: al-hikmah al-muta‘aliyah (transendental)
5.2. Teori Kontemporer
- Fazlur Rahman: double movement
- Arkoun: humanisme kritis, Islamic Applied Humanities
- Nasr Abu Zayd: hermeneutika teks
- Ziauddin Sardar: future studies dalam Islam
- Kuntowijoyo: Ilmu sosial profetik
- Amin Abdullah: integrasi-interkoneksi
- M. Quraish Shihab: moderasi ilmu dan tafsir
- M. Arkoun: deconstruction of Islamic reason
5.3. Ilmu Sosial–Humaniora
- Hermeneutika Gadamer
- Fenomenologi Husserl
- Sosiologi interpretatif Weber
- Teori strukturasi Giddens
- Critical theory Habermas
- Social inclusion theory
6. Dasar Implikasi dan Implementasi
6.1. Kurikulum
- Integrasi ilmu agama–humaniora–sains
- Modul fikr (critical thinking), zikr (spiritual reflection), suluk (aksi)
- Studi kasus realitas kontemporer
- Kolaborasi dosen lintas prodi
6.2. Penelitian
- Metode mix: textual–contextual–empirical–spiritual
- Rekonstruksi turats berbasis problem kekinian
- Penelitian multidisiplin: PAI, psikologi, sosial, teknologi
6.3. Implementasi Sosial
- Model PAI berbasis rekayasa sosial
- Program pengembangan karakter: integratif spiritual–intelektual
- Moderasi beragama dan inklusi sosial
- Penguatan SDGs dalam perspektif Islam
6.4. Pengembangan Personality
- Spiritualitas reflektif (zikr)
- Intellectual leadership (fikr)
- Emotional intelligence
- Moral reasoning
- Proyek aksi (community engagement)
7. Perspektif Faktual–Aktual–Kontemporer
Isu Kontemporer yang Relevan:
- Polarisasi keagamaan, intoleransi
- Tantangan AI & digital ethics
- Krisis lingkungan
- Post-truth & hoaks keagamaan
- Moderasi beragama
- Post-sekularisme
- Problem integrasi ilmu dan relevansi PAI di era 5.0
- Dekonstruksi turats tanpa kehilangan akar otentik
Arah Integrasi–Interkoneksi ke Depan
- Rekonstruksi turats untuk menjawab isu kontemporer
- Menghadirkan Islam sebagai rahmah, bukan sekadar norma
- Mengembangkan literasi digital-keagamaan
- Membangun jejaring pengetahuan global (global epistemic collaboration)
- Melahirkan ilmuwan muslim yang spiritual–kritis–inovatif
8. Kesimpulan Besar
Integrasi–interkoneksi studi keislaman tidak berhenti pada model diagram atau teori, melainkan harus menjadi:
a.
Mazhab keilmuan
baru UIN Sunan Kalijaga
yang menghidupkan kembali turats secara kritis.
b.
Pendekatan
epistemik holistik
yang memadukan fikr–zikr–suluk.
c.
Kerangka kerja
transformatif
yang menyatukan agama, sains, humaniora, teknologi, dan praktik sosial.
d.
Model
pengembangan personality
yang menyiapkan insan ulul albab generasi baru.
e.
Nalar kontinum
yang menjembatani teks, konteks, dan praksis.
Bottom of Form