UIN SUKA

Senin, 24 November 2025 12:52:00 WIB

0

CAHAYA KOLEKTIF: RUANG SEMBUH BERSAMA (Dr. Asep Jahidin Koordinator PLD UIN Sunan Kalijaga)

Tadarus Minggu 59

Sore itu, ruang diskusi kembali ramai. Kali ini ramai yang terstruktur tapi tetap meriah. Seperti orang lagi kenduren, riuh, tapi semua menikmati bersama. Dua kursi roda tersusun di pinggir ruangan, peta pikiran digelar… aroma teh melati pemberian dari kolega yang datang, bercampur harum kayu manis yang saya bawa sendiri dari rumah…

Hujan tipis masih menetes di luar, dan langit seperti sedang menemani kami, belajar memahami difabel.

“Tema sore ini,” kata saya, pelan, “Cahaya Kolektif: Ruang Sembuh Bersama.”


Teman difabel, kolega relawan, dan beberapa mahasiswa duduk membentuk formasi nyaman pada dirinya. Tak ada panggung. Semua dalam posisi merasa ingin tahu.

“Kalau di minggu lalu,” saya melanjutkan, “kita bicara tentang cahaya yang menyalakan hati masing-masing, minggu sekarang kita coba melihat bagaimana cahaya itu menyatu. Nggak cuma di dalam diri, tapi di antara kita semua.”

Teman dalam berfikir mengangkat tangan, “Aku dulu pikir sembuh itu berarti nggak lagi sakit. Tapi sekarang aku sudah mengerti, sembuh itu ketika luka-luka dalam hidup kita bisa dipegang bareng-bareng tanpa harus merasa malu.”

Teman diskusi lainnya berkata, “Jadi Cahaya itu kayak tangan yang nyari tangan lain. Ia Nggak bisa sendirian.”

Hadirin pada mengangguk pelan, seorang Difabel Netra menjawab “Aku ngerasain banget itu. Kadang aku ngeraba dunia, tapi ternyata dunia juga ngeraba balik lewat orang-orang kayak kalian ini”

Suasana obrolan jadi agak hening.


Lalu seorang relawan berkata, “Aku belajar di sini bahwa membantu bukan soal kuat, tapi soal berani hadir di tempat di mana orang lain sedang berjuang.”

Magrib mulai datang menyelimuti sore, cahaya bulan turun pelan. Lampu-lampu kantor Pusat Layanan menyala satu per satu.

Suasana itu seperti ruang doa tanpa ritual. Saat suara Adzan bergema di masjid UIN, saat itu, setiap napas terasa bagai dzikir panjang, semakin yakin: Bahwa kita semua sedang disembuhkan oleh kebersamaan.

Lalu saya berkata:

“Metode Cahaya Nabi tahap keempat ini bicara tentang ruang sosial yang menyembuhkan. Tentang pertemuan yang bukan untuk menolong atau ditolong, tapi untuk menyala bersama. Sembuh bersama sama”

Kami kemudian melakukan latihan kecil:

Setiap orang sekali lagi saya minta menutup mata. Teman netra tersenyum: “Aku sudah biasa,” katanya sambil tertawa kecil, saya tidak bisa menahan tawa, hahaha...lalu saya minta semua mengingat satu momen di mana ia merasa benar-benar dilihat, didengarkan, dan diterima.

Setelah itu, satu per satu berbagi, dengan bahasa, dengan tulisan, atau dengan genggaman tangan. Bebas... pokoknya gagasan mereka tercurahkan

Itu bukan sesi konseling, bukan juga ceramah, apalagi nasihat. Tapi di antara cerita-cerita yang kita lakukan itu, kita bisa merasakan sesuatu yang tumbuh, semacam jalinan lembut yang menghubungkan jiwa-jiwa yang berbeda.

Sebuah ruang sembuh bersama, tempat setiap cahaya kecil saling memantul dan memperkuat

Saya menutup tadarus malam itu dengan kalimat yang ditulis di selembar kertas kecil dekat lutut saya:

“Tak ada cahaya yang benar-benar besar tanpa pernah menjadi bagian dari yang kecil”.

Di dalam Intervesi cahaya nabi untuk difabel tahap empat ini, kita belajar "memantulkan Tuhan" melalui satu sama lain.”

Catatan Konseptual. Intervesi Cahaya Nabi untuk Difabel, Tahap empat: Cahaya Kolektif (Ruang Kesalehan Sosial Spiritual)

1.            Prinsip: Interaksi antarmanusia sebagai pertukaran cahaya spiritual.

2.            Tujuan: Membangun kesadaran sosial yang menyembuhkan (bukan  hanya menolong atau ditolong).

3.            Metode Praktis:

* Lingkar reflektif tanpa hierarki.

* Ekspresi multi-indera (bicara, sentuh, tulisan, gestur).

* Kehadiran tanpa syarat: ruang tanpa kompetisi empati.

4.            Dampak Awal: munculnya rasa saling memiliki, relasi horizontal, dan healing community difabel–non-difabel engagement.